in memoriam Pak Pri
Bagi orang Surabaya, nasi pecel dan es campur bukanlah makanan dan minuman yang istimewa. Keduanya bisa didapati dengan mudah dimana saja mulai dari pagi hingga larut malam. Harganya pun murah bahkan dianggap makanan dan minuman rakyat. Keduanya tidak ada yang istimewa.
Tapi bagi Pak Pri makanan dan minuman ini adalah istimewa. Pak Pri adalah seorang pemulung dengan satu anak dan satu istri. Sudah lama istrinya terkena stroke, sehingga tangan kirinya lumpuh. Dulu istrinya berjualan pisang goreng, kacang dan makanan kecil lain. Namun akibat stroke, dia tidak mampu lagi mengerjakan semua itu. Anak satu-satunya masih sekolah di SMP. Mereka sangat bangga dengan anak ini, sebab di kalangan daerah pemulung itu, anak merekalah satu-satunya anak yang mampu sekolah di SMP negeri. Maka mereka tidak mengijinkan anaknya untuk ikut memulung seperti yang banyak dilakukan oleh anak-anak seusianya di kawasan ini. Mereka hanya menekankan agar anaknya sekolah.
Sudah lama Pak Pri sakit. Menurut dokter di sebuah poli, liver Pak Pri sudah payah. Boleh dikatakan tidak tertolong lagi. Namun meski sudah lemah, Pak Pri tetap menarik gerobaknya dari kampung ke kampung untuk mencari barang-barang bekas di tempat-tempat sampah. Inilah sumber keuangannya. Dia membutuhkan uang untuk hidup dan biaya sekolah anak tunggalnya.
Kerja keras membuat penyakit livernya semakin parah. Penyakit ini diperparah oleh makanan yang tidak terjamin. Dokter memang menyarankan agar dia makan makanan yang bergizi dan minum vitamin. Namun darimana dia dapat uang untuk membeli makanan yang bergizi? Dari mana dia dapat uang untuk beli vitamin? Sedang hari ini bisa makan saja itu sudah merupakan berkat. Dia sudah bersyukur jika perut keluarganya bisa terisi.
Suatu hari sakit Pak Pri sudah tidak bisa tertolong lagi. Dia hanya bisa berbaring di tempat tidur kecil, sehingga kakinya tidak bisa lurus. Tubuhnya sudah sangat lemah. Obat yang diberi dokter tidak bisa dia minum, sebab obat itu harus diminum setelah makan. Padahal dia jarang makan. Bukannya dia pantang, tapi memang tidak ada lagi yang dimakan. Hidup sehari-harinya hanya berasal dari belas kasih para sesama pemulung. Mereka pun sudah susah, jadi tidak bisa senantiasa membantu.
Saya berkunjung ke rumah Pak Pri. Rumah ini berdiri di tepi sungai. Sebuah rumah darurat berukuran 2X3, jauh lebih kecil dibandingkan kamar saya di pasturan. Dindingnya dari triplek-triplek bekas yang ditempelkan begitu saja. Asal tertutup! Lantainya dari tanah. Lembab, sebab dekat sungai dan kalau hujan atap rumahnya, yang dari seng, bocor. Depan rumah ada kandang ayam kecil, sehingga bau kotoran ayam sangat menusuk hidung. Belum lagi bau barang-barang hasil pulungan. Barang-barang dari sampah yang mempunyai bau khas. Tengik! Pengap dan suram.
Setelah ngobrol sesaat, Pak Pri mengatakan dia ingin makan nasi pecel dan minum es campur. Saat itu hujan turun dengan deras dan hari sudah malam. Maka saya dan seorang teman menjanjikan bahwa besok siang akan kami bawakan. Namun esok siangnya kami bergulat dengan kesibukan kami masing-masing. Teman saya bergulat dengan pekerjaannya, sedang saya pergi ke luar kota. Kami menepikan permintaan Pak Pri, sebungkus nasi pecel dan es campur.
Kami terkejut ketika diberi tahu bahwa Pak Pri meninggal dunia. Menurut Bu Pri, sampai meninggalnya Pak Pri masih belum bisa makan nasi pecel dan minum es campur. Saya termenung! Sedih! Mengapa hanya sebungkus nasi pecel dan segelas es campur saja tidak terpenuhi sampai meninggal? Mengapa saya tidak segera menepati janji? Aneka perasaan bergulat dan bercampur aduk menjadi satu.
Sebungkus nasi pecel dan segelas es campur bukanlah sesuatu yang mahal. Bukan sesuatu yang sulit didapatkan. Bukan makanan dan minuman istimewa. Tapi sampai mati Pak Pri tidak bisa merasakannya. Pak Pri bukanlah satu-satunya kaum miskin yang menginginkan sesuatu yang sangat sederhana, namun tidak terpenuhi sampai maut menjemput. Dia adalah salah satu potret kemiskinan di negara ini. Negara yang dibanggakan sebagai negara gemah ripah loh jinawi. Negara yang sudah mampu membangun aneka kehidupan modern. Tempat tinggal Pak Pri di tepi jalan besar berhadapan dengan kompleks pertokoan besar Mangga Dua. Suatu pemandangan yang sangat kontradiktif. Dapat dipastikan orang yang masuk ke Mangga Dua pasti mampu melepaskan uang sekian puluh ribu untuk suatu barang sekunder. Sedang di depannya tergelat orang yang tidak mampu membeli nasi pecel dan es campur sampai mati.
Pak Pri, kau adalah potret kelam negara ini. Akankah kau mendapatkan keinginanmu di alam sana? Semoga!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar